Bertamu Ke Rumah Suku Ainu di Hokkaido, Jepang

Hokkaido bersalju hampir sepanjang tahun namun di sinilah tinggal Suku Ainu, suku asli Hokkaido.

Tak seperti di bagian Jepang lainnya, di Hokkaido sepanjang tahun hampir selalu di se limuti salju. Bahkan di awal Maret, ketika bagian Jepang yang lain sedang menyambut musim semi dan sakura mekar, di Hok kai do sebagian besar masih dipenuhi salju.

Ketika mulai menjelajahi Hokkaido, ka nan kiri jalanan salju tetap menumpuk. Sejauh mata memandang, di kota, di hu tan, seluruhnya putih salju di mana-mana. Barangkali salju memang menjadi teman keseharian orang-orang Hokkaido.

Hokkaido memang dan bersalju hampir sepanjang tahun namun di sinilah tinggal Suku Ainu, Suku asli Hokkaido. Suku ini sudah menaklukkan kerasnya alam Hokkaido sejak abad ketiga sebelum ma sehi dan sejak itulah mereka membentuk budaya Ainu yang khas.

Suku Ainu adalah Suku yang meng alami pasang surut. Suku Ainu pernah sa ngat dihormati namun sebaliknya pernah juga pernah mengalami diskriminasi di ma sa lalu. Namun sekarang semuanya sud ah berbeda, Suku Ainu setara dengan penduduk Jepang lainnya, memiliki hak-hak yang sama sebagai warga negara Jepang.

Orang Jepang mengenal Suku Ainu sebagai orang-orang yang tangguh. Mereka mengembangkan budaya berburu untuk melawan kerasnya alam Hokkaido. Ka re na hidup menyatu dengan alam, Bangsa Ai nu sangat menghormati alam, mereka men jadikan unsur-unsur alam sebagai de wa me reka seperti Matahari, Bulan, Air, dan Api.

Selain unsur alam tadi, mereka juga men jadikan binatang sebagai dewa me reka, seperti Beruang yang menjadi binatang paling dihormati bagi Suku Ainu. Itulah mengapa sisi reliji dan spiritualitas Suku Ainu berbeda dengan mayoritas orang Jepang yang menganut agama Shinto dan Buddha

Memahami Ainu, berarti memahami Hokkaido karena budaya Suku Ainu memang sudah menjadi simbol kekayaan budaya Hokkaido. Untuk itulah saya me lu ncur menuju Shiraoi sekitar 1 jam dari Kota Sapporo, tempat di mana budaya asli Suku Ainu dilestarikan dan dijaga benar di Ainu Museum Poroto Kotan. Museum ini berada di tepian Danau Poroto, Shiaroi. Di sinilah sekitar 2-3 Abad yang lalu bangsa Ainu berdiam, men dirikan perkampungan besar dan hidup turun temurun.

Rekam jejak budaya suku ainu

 
Saya bergegas membayar loket masuk mu seum seharga 800 Yen dan begitu ma suk sudah disambut dengan deretan ru mah tradisional Ainu. Rumah tradisional Suku Ainu dibangun dengan fondasi kayu dan alang-alang sebagai dinding dan atapnya. Bagian dalam rumah ini hanya berupa satu ruangan besar dengan sebuah tungku api di tengah ruangan. Biasanya ada 2 sam pai 3 jendela di setiap ruangan, tergantung rumah masing-masing. Sementara untuk lantai rumahnya terbuat dari anyaman alang-alang yang berfungsi sebagai alas.

Tungku yang ada di tengah ruangan berfungsi sebagai tempat berdiang sekaligus tempat memasak. Keluarga Suku Ainu akan terus menyalakan tungku tersebut 24 jam sehari. Selain sebagai penghangat ruangan dan tempat memasak, pada bagian langit-langit tergantung banyak ikan asap yang diasapkan dengan panas api tungku tersebut. Mengingat salmon-salmon yang digantung di rumah Suku Ainu tersebut sa ya jadi teringat ketika di Kupang, orang-orang Timor pun menggantung ikan dan jagung untuk dijadikan ikan dan jagung asap.

Di bagian dalam rumah terdapat juga perabot makan dari porselen dan kayu seperti piring, rantang dan panci. Perabot makan ini tak hanya digunakan untuk menyajikan makanan atau memasak, pe rabot ini juga berfungsi sebagai penanda status sosial, semakin banyak perabot makannya maka semakin tinggi pula status sosialnya.

Fungsi perabot makan tersebut juga sebagai alat tukar dengan para shogun. Bangsawan Ainu akan memberikan upeti berupa perabot makan kelas satu berikut upeti seperti hasil buruan, koin dan kulit binatang di dalam perabot makan itu.

Di rumah tradisional biasanya akan tergantung beberapa baju tradisional Suku Ainu. Bentuk dan motifnya berbeda dengan kimono atau yukata yang mayoritas dipakai oleh orang-orang Jepang. Tentang baju tradisional ini, awalnya Suku Ainu menggunakan bahan pakaian dari kulit binatang seperti beruang. Kemudian di era Ieyasu Tokugawa, Suku Ainu mulai mengenal kain katun dan sedari masa itu hingga sekarang, Suku Ainu menggunakan katun sebagai bahan baju tradisional mereka.

Bentuk pakaian tradisional Suku Ainu berupa jubah segi empat sementara bagian bawah dengan celana ketat yang mengikuti lekuk tubuh kaki. Ada pola pakaian tradisional Suku Ainu yang paling dikenal yaitu pola Rurunpe. Pola ini berupa lukisan tribal, terdiri dari tiga warna yaitu merah, hitam dan putih. Pola tersebut bisa menggambarkan burung, langit ataupun apa yang dianggap kekuatan yang dihormati oleh Suku Ainu.

Ragam budaya Suku Ainu yang dilestarioan oleh Museum ini didukung oleh Pemerintah Hokkaido dengan menempatkan museum ini sebagai destinasi wisata utama di Hokkaido. Hal ini dilakukan demi mengenalkan jejak budaya Suku Ainu kepada dunia dan menjaga warisan.


Kisah Salmon Asap Ainu 

Suku Ainu dikenal sebagai Suku yang patuh dengan apa yang mereka konsumsi. Mereka tidak memakan makanan mentah dan hanya mau mengonsumsi makanan yang sudah diolah.

Satu warisan kuliner yang paling terkenal dari Suku Ainu adalah salmon asap. Itulah mengapa di tiap langit-langit rumah tradisional mereka tergantung ratusan salmon asap yang ditata berderet.

Untuk membuat salmon asap ini pro sesnya lama dan panjang. Satu keluarga yang ingin membuat salmon asap harus pergi berburu salmon terlebih dahulu. Setelah terkumpul, salmon-salmon tersebut akan dikeringkan dari sinar matahari langsung selama 2 bulan, barulah dibawa ke dalam rumah dan diasapi lewat tungku yang ada di dalam rumah selama 3 bulan, sehingga total waktu untuk membuat salmon asap. Itulah mengapa tungku di dalam rumah Suku Ainu harus senantiasa menyala untuk mengasapi salmon itu.

Proses yang lama tersebut membuat Salmon Asap berharga mahal, kurang lebih dihargai 5.000 yen atau jika diru piah kan sekitar Rp 500 ribu per ekornya. Meski mahal, salmon asap khas Suku Ainu ini sangat laris di Hokkaido, tak heran jika salmon asap Suku Ainu selalu habis dipesan walaupun si pemesan harus sabar menunggu berbulan-bulan.


Mengunjungi Kuma, Dewa Ainu

Suku Ainu yang merupakan peng anut animisme memiliki binatang yang dianggap dewa yaitu beruang atau dalam bahasa Jepangnya disebut Kuma. Bagi Suku Ainu, beruang adalah bi natang suci, pelindung me reka dan dihormati.

Beruang lantas menjadi binatang simbol Hokkaido. Suku Ainu sendiri membuat patung beruang untuk peng hor matan bahkan dalam ikat kepala kaum laki-laki Suku Ainu terdapat ukiran beruang dalam bentuk kecil.

Untuk mengamati bagaimana kehidupan beruang yang menjadi dewa Suku Ainu saya menuju Showa Shinzan Kumabokujo, yaitu tempat penangkaran beruang di kawasan Noboribetsu, sekitar 30 menit perjalanan dari Ainu Museum Poroto Kotan. Beruang yang ditangkarkan adalah beruang cokelat Hokkaido / Ursus arctos lasiotus. Beruang ini adalah binatang endemik asli Hokkaido. Dikenal dengan tubuhnya yang besar dan sifatnya yang agresif dan badannya yang berwarna cokelat gelap.

Para pengunjung akan menemui ba nyak sekali beruang baikberuang anakanak, muda sampai beruang dewasa. Di kandang mereka terkadang menam pilkan sisi agresifnya namun kadang ada kesan malu-malu apalagi saat para pengunjung memberikan makanan.

Total ada 70 beruang dan seluruhnya di bawah pengawasan Pemerintah Hok kaido. Mereka mendapatkan ma kanan, perawatan dan nutrisi tambah an secara berkala untuk menjaga kesehatan beruang-beruang ini. Apabila ada beruang yang sakit atau mati, pengelola wajib melaporkannya pada pemerintah.

Penangkaran beruang di Hokkaido memang dibolehkan dan beruangberuang yang ditangkarkan di tempat ini pun dibatasi dan diberikan nomor register yang harus dilaporkan berkala pada pemerintah. Ketentuan lainnya adalah pemerintah memperbolehkan penangkaran dan melarang perburuan, namun khusus bagi beruang yang ma suk ke kawasan pemukiman dan menye rang manusia, maka beruang tersebut boleh diburu. Pengawasan terhadap be ruang pun ketat, baik yang di pe nang karan maupun yang berada di alam liar.

Di luar aktivitas penangkaran dan perburuan beruang yang menyerang manusia tersebut menangkap beruang adalah hal yang ilegal. Seperti itulah sistem yang dibuat pemerintah Hok kaido untuk melindungi Kuwa, binatang yang menjadi dewa bagi Suku Ainu dan binatang kehormatan Hok kaido.


 Mengunjungi Lembah Neraka 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi Noboribetsu, sebuah kompleks re sort air panas yang paling terkenal di Hokkaido. Dikelilingi oleh gunung api tua yang pernah meletus puluhan ribu tahun silam, ramainya pariwisata Noboribetsu sekarang berasal dari air panas yang muncul dari bekas rekahan letusan gunung tersebut.

Tempat ini dinamai Noboribetsu oleh Suku Ainu yang memiliki kebia sa an menamai nama tempat sesuai ka rakter fisik tempat tersebut. Nobo ribetsu dalam bahasa Ainu adalah Nupur Pet yang jika diartikan adalah Sungai Berwarna Gelap. Mengacu pada sungai yang mengalir di tanah vulkanik sehingga tampak hitam dan gelap.

Ada satu tempat paling menarik di Noboribetsu yaitu Jigokudani atau Lembah Neraka. Orang-orang Ainu jugalah yang menemukan tempat ini. Sebenarnya Jigokudani adalah kepundan bekas letusan Gunung Kuttara yang meletus 20 ribu tahun yang lalu.

Dinamai oleh Lembah Neraka adalah karena Suku Ainu melihat lembah ini sebagai penampakan neraka di bumi. Panasnya gas vulkanik yang terdapat di lembah ini di asoasiasikan dengan panasnya neraka, sementara bau belerang yang sangat menyengat dikatakan oleh orang Ainu sebagai bau iblis. Sehingga Suku Ainu menyebut tempat ini adalah Lembah Neraka.

Lembah ini sebanarnya sungguh menawan, guratan-guratan bekas letusan gunung ini mengukir lembah. Se mentara gas panas yang muncul da ri perut bumi menyembur di antaranya. Jika musim salju, maka re mah-remah salju akan memperindah suasana de ngan menampilkan

Walaupun tempat ini mengundang ba nyak turis, pemerintah Hokkaido te rus memantau dengan ketat lembah ini ka rena potensi letusannya, bahkan setiap hari di Noboribetsu bisa ter ja di 50- 60 kali gempa vulkanik ka rena ak tivitas vulkanik di Lembah Neraka ini.


Pola Asuh Anak Ainu 

Hidup di alam yang keras rupanya tak membuat orang-orang Ainu menjadi orang yang keras juga. Mereka adalah orang-orang yang halus budi dan terkenal karena keramahannya. Ternyata pola pengasuhan anak Suku Ainu yang menjadi kunci.

Anak-anak Suku Ainu sejak kecil sudah diajari untuk menghormati alam yang member mereka kehidupan. Semenatara untuk memperhalus budi, sang ibunda biasanya meyampaikan kisah-kisah bijak pada anak-anak Suku Ainu sedari mereka masih bayi.

Lantas saat meninabobokan, Ibu-ibu Suku Ainu akan menyanyikan lagu yang berisi bait-bait nasihat dan kisah-kisah kebajikan. Hal ini dilakukan secara turun temurun sebagai tradisi Suku Ainu sebagai pengingat generasi mereka di masa mendatang.

Pola asuh anak ini terbukti mendidik Suku Ainu menjadi orangorang yang tangguh, menghormati alam namun sangat halus budi. Oleh karena itu Suku Ainu melestarikan pola asuh anak yang menjadi tradisi mereka dengan sebuah tarian yaitu tarian mengasuh anak.


Naik Apa, Habis Berapa 

Untuk menuju Hokkaido sebenar nya mudah. Dari Jakarta hanya membutuhkan 2-3 kali perjalanan. Dari Jakarta bisa menuju Tokyo atau Osaka terlebih dahulu untuk pemberhentian pertamanya. Penerbangan membutuhkan waktu 6-7 jam tergantung kondisinya. Penerbangan ke Tokyo pun banyak tersedia dari Jakarta, hampir setiap hari ada.

Dari Tokyo ada tiga opsi untuk me nuju Hokkaido. Opsi pertama adalah menggunakan pesawat dari Tokyo ke Sapporo, lama perjalanan adalah 1,5 jam. Kemudian opsi kedua adalah meng gunakan kereta cepat Shinkansen dari Ueno ke Hakodate, lama perja lanannya adalah 6 jam melewati tero wongan bawah laut. Sementara opsi terakhir adalah menggunakan sleeper train Cassiopea yang berangkat dari Tokyo sore hari dan tiba di Hokkaido keesokan harinya.

Karena Hokkaido identik dengan Ainu maka oleh-oleh dari Hokkaido pun biasanya mengambil unsur-unsur dari Suku Ainu. Ornamen-ornamen Rurunpe misalnya, banyak ditemui untuk motif kartu pos, tempelan kulkas sampai tshirt.

Tidak lupa juga sosok Kuma atau Beruang yang dianggap dewa bagi Suku Ainu. Boneka-boneka beruang, ukiran sampai stiker berlogo beruang menjadi ragam mayoritas oleh-oleh dari Hokkaido. Memang sepertinya benar, Hokkaido adalah rumah bagi Suku Ainu, tercermin dari jenis oleh-olehnya.

Oleh Farchan Noor Rachman, traveler, blogger
  


  

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bertamu Ke Rumah Suku Ainu di Hokkaido, Jepang"

Post a Comment